Walid bin 'Ubbadah datang menghadap ayahnya,'Ubbadah bin Shamit yg sdang sakit&menjelang kematianya. Ia berkata "Ayah, berwasiatlah kpadaku dan bersungguh-sungguhlah."
'Ubbadah pun duduk seraya berkata:"Anakku, sesungguhnya kamu tidak akan merasakan manisnya iman dan tidak akan sampai kpd hakikat keimanan, sehingga kamu beriman kpada baik dan buruknya takdir".
ebenernya masih ada lanjutan percakapannya kang.
Walid berkata:"ayah bagaimana cara untuk mengetahui baik dan buruknya takdir Allah?"
'Ubbadah menjawab:"Kamu telah mengetahui bahwa apa yang membuatmu salah maka belum tentu akan menjadi musibah bagimu, dan apa yang telah menimpamu belum tentu akan membuatmu salah. Aku pernah mendengan Rasulullah saw bersabda,
'yang mula-mula diciptakan Allah adalah pena. Allah berfirman kpada pena, berjalanlah! Maka pena itu pun menulis takdir terhadap hamba-hamba Allah sampai hari kiamat. Jika kamu mati tidak dalam keadaan beriman kpada takdir, niscaya kamu akan masuk neraka'(HR Abu Dawud)"
Tampilkan postingan dengan label muraqabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muraqabah. Tampilkan semua postingan
Senin, 22 Agustus 2011
Selasa, 07 Desember 2010
Persimpangan

Melangkah dengan hati
Tersembunyi dalam guratan lepas
Tak tau kemana arah sang kaki kan melangkah
Sang hati hanya berbicara
Jalani apa yang ada dihadapanmu saat ini
Saat kusadari ternyata apalah arti diri ini
Hanya seungguk kecil dihadapan manusia besar
Kecil dalam hal ilmu,
Kecil dalam hal pemahaman
Apalagi dihadapan-Mu ya Allah
Jika ada sesosok manusia merindukan ketiadaanku
Maka aku hanya berharap Engkau merindukanku
Seperti halnya aku merindukan-Mu
Sungguh tak ada yang salah dengan sebuah persahabatan
Begitupun dengan persaudaraan
Andai aku tau bagaimana Rasulullah memperlakukan para shahabat dan shahabiyah
Mungkin aku tak akan pernah kehilangan
Tiada lain karena kesalahanku,, yah karena kesalahanku
Jika ketiadaanku membuat seseorang bahagia
Maka izinkan aku menghilang dihadapannya
Tanpa pernah memutuskan ukhuwah
Tanpa pernah memutus do’a yang senantiasa terurai
Berikan ia pengganti sahabat yang lebih baik dariku
Hanya bisa mengurai senyum untuk keluargaku
Para sahabat setiaku
Adik adiku tersayang
Dan orang orang sekitarku
Andai sebuah kehidupan memberiku kejelasan
Mungkin aku tak akan pernah bingung tuk melangkah
Tapi… inilah dunia dipenuhi berbagai pilihan dan konsekwensi
Dan kusadari bahwa kekuatanku untuk melangkah
Hanya ada karena Allah
Merenungi daun daun terserak,, dikala sang bunga berguguran
tertiup angin yang tak bisa ia kendalikan..
Meskipun sang pohon terlihat lemah,,
Tapi kelemahannya telihat indah bagi manusia yang melihatnya
Andaikan kelemahanku tetap bisa membuat orang tersenyum,
Maka izinkan aku terbiasa menguatkan hidup atas izin-Mu
(saat merasa seseorang lebih senang aku tak ada)
Langganan:
Postingan (Atom)